Featured

First blog post

This is the post excerpt.

Advertisements

This is your very first post. Click the Edit link to modify or delete it, or start a new post. If you like, use this post to tell readers why you started this blog and what you plan to do with it.

post

Teropong bintang

Disini saya akan menjawap pertanyaan:

1Apa itu teropong bintang? 

2.Apa kegunaan teropong bintang? 

  

Pengertian Teleskop (Teropong Bintang)

Teropong bintang adalah teropong yang digunakan untuk melihat atau mengamati benda-benda langit, seperti bintang, planet, dan satelit. Nama lain teropong bintang adalah teropong astronomi. Ditinjau dari jalannya sinar, teropong bintang dibedakan menjadi dua, yaitu teropong bias dan teropong pantul.

Jenis-Jenis Teleskop (Teropong Bintang)

Secara garis besar, teleskop atau teropong bintang (teropong astronomi) dikelompokkan menjadi dua jenis, yaitu teleskop pembias (Keplerian) dan teleskop pemantul.

Teleskop Pembias (Keplerian)

Teropong bias terdiri atas dua lensa cembung, yaitu sebagai lensa objektif dan okuler. Sinar yang masuk ke dalam teropong dibiaskan oleh lensa. Oleh karena itu, teropong ini disebut teropong bias. Teleskop pembias terdiri dari dua lensa konvergen (lensa cembung) yang berada pada ujung-ujung berlawanan dari tabung yang panjang, seperti diilustrasikan pada gambar berikut.

Teleskop Pembias (Keplerian)Diagram pembentukan bayangan pada teleskop pembias

Lensa yang paling dekat dengan objek disebut lensa objektif dan akan membentuk bayangan nyata I1 dari benda yang jatuh pada bidang titik fokusnya Fob (atau di dekatnya jika benda tidak berada pada tak berhingga). Walaupun bayangan I1 lebih kecil dari benda aslinya, ia membentuk sudut yang lebih besar dan sangat dekat ke lensa okuler, yang berfungsi sebagai pembesar. Dengan demikian, lensa okuler memperbesar bayangan yang dihasilkan oleh lensa objektif untuk menghasilkan bayangan kedua yang jauh lebih besar I2, yang bersifat maya dan terbalik.

Teropong biasPembentukan bayangan pada teropong bias

Benda yang diamati terletak di titik jauh tak hingga, sehingga bayangan yang dibentuk oleh lensa objektif tepat berada pada titik fokusnya. Bayangan yang dibentuk lensa objektif merupakan benda bagi lensa okuler. Lensa okuler berfungsi sebagai lup.

Lensa objektif mempunyai fokus lebih panjang daripada lensa okuler (lensa okuler lebih kuat daripada lensa objektif). Hal ini dimaksudkan agar diperoleh bayangan yang jelas dan besar. Bayangan yang dibentuk oleh lensa objektif selalu bersifat nyata, terbalik, dan diperkecil. Bayangan yang dibentuk lensa okuler bersifat maya, terbalik, dan diperkecil terhadap benda yang diamati. Seperti pada mikroskop, teropong bintang juga dapat digunakan dengan mata berakomodasi maksimum dan dengan mata tak berakomodasi.

Jika mata yang melihat rileks (tak berakomodasi), lensa okuler dapat diatur sehingga bayangan I2 berada pada tak berhingga. Kemudian bayangan nyata I1 berada pada titik fokus f ‘ok dari okuler, dan jarak antara lensa objektif dengan lensa okuler adalah d = fob + f ‘ok untuk benda pada jarak tak berhingga. Perbesaran total dari teleskop dapat diketahui dengan melihat bahwa θ ≈ \frac{h}{f'_{ob}} , di mana h adalah tinggi bayangan I1 dan kita anggap θ kecil, sehingga tan θ ≈ θ . Kemudian garis yang paling tebal untuk berkas sinar sejajar dengan sumbu utama tersebut, sebelum jatuh pada okuler, sehingga melewati titik fokus okuler Fok, berarti θ’ ≈\frac{h}{f'_{ok}}. Perbesaran anguler (daya perbesaran total) teleskop adalah:

M=\frac{\theta '}{\theta }=-\frac{f_{ob}}{f_{ok}}

Tanda minus (-) untuk menunjukkan bahwa bayangan yang terbentuk bersifat terbalik. Untuk mendapatkan perbesaran yang lebih besar, lensa objektif harus memiliki panjang fokus ( fob) yang panjang dan panjang fokus yang pendek untuk okuler (fok).

Teleskop Pemantul

Karena jalannya sinar di dalam teropong dengan cara memantul maka teropong ini dinamakan teropong pantul. Pada teropong pantul, cahaya yang datang dikumpulkan oleh sebuah cermin melengkung yang besar. Cahaya tersebut kemudian dipantulkan ke mata pengamat oleh satu atau lebih cermin yang lebih kecil.

Pembentukan bayangan pada teropong pantulPembentukan bayangan pada teropong pantul

Sebelumnya telah disebutkan bahwa untuk membuat teleskop pembias (teleskop astronomi) berukuran besar diperlukan konstruksi dan pengasahan lensa besar yang sangat sulit. Untuk mengatasi hal ini, umumnya teleskop-teleskop paling besar merupakan jenis teleskop pemantul yang menggunakan cermin lengkung sebagai objektif, gambar dibawah, karena cermin hanya memiliki satu permukaan sebagai dasarnya dan dapat ditunjang sepanjang permukaannya.

Teleskop PemantulCermin cekung digunakan sebagai objektif pada teleskop astronomi

Keuntungan lain dari cermin sebagai objektif adalah tidak memperlihatkan aberasi kromatik karena cahaya tidak melewatinya. Selain itu, cermin dapat menjadi dasar dalam bentuk parabola untuk membetulkan aberasi sferis. Teleskop pemantul pertama kali diusulkan oleh Newton. Biasanya lensa atau cermin okuler, tampak seperti pada gambar diatas dipindahkan sehingga bayangan nyata yang dibentuk oleh cermin objektif dapat direkam langsung pada film.

Agar teleskop astronomi menghasilkan bayangan yang terang dari bintang-bintang yang jauh, lensa objektif harus besar untuk memungkinkan cahaya masuk sebanyak mungkin. Dan memang, diameter objektif merupakan parameter yang paling penting untuk teleskop astronomi, yang merupakan alasan mengapa teleskop yang paling besar dispesifikasikan dengan menyebutkan diameter objektifnya, misalnya teleskop Hale 200 inci di Gunung Palomar. Dalam hal ini, konstruksi dan pengasahan lensa besar sangat sulit. 

Pekerjaan Astronom

Disini saya akan akan menjawab pertanyaan apa pekerjaan seorang astronom:

kerja seorang astronom sebenarnya sama saja dengan pekerjaan di bidang lainnya. Apabila yang dimaksud profesional astronomi adalah dengan berkontribusi pada penelitian/pendidikan astronomi , baik melalui mencoba mencari temuan baru, atau kontribusi ilmiah semacamnya, dan itu adalah dilakukan sebagai pekerjaan utama (profesi). Itu yang membedakan dengan non-profesional, akan tetapi di astronomi batasan profesional/amatir itu sangat tipis, karena dua-duanya bisa berkontribusi nyata pada temuan-temuan baru di astronomi.

Tapi mari kita coba kenali lebih jauh bagaimana astronom profesional bekerja.

Astronom adalah seseorang yang mempelajari benda-benda langit. Dan untuk masa sekarang astronom profesional adalah orang yang memiliki latar belakang pendidikan astronomi ataupun fisika yang bekerja di institusi astronomi sebagai peneliti dll. Nah, kerja seorang astronom profesional kurang lebih sama dengan pekerjaan lainnya. Ada jam kantor (walaupun cukup fleksibel), ada bos, ada gaji, ada target baik jangka pendek (walaupun kadang ditentukan sendiri) maupun jangka panjang (ini biasanya ditentukan bos), ada meja kerja, ada komputer, ada internet kecepatan tinggi, ada alat kantor dan printer, dan ada rehat kopi.

Siklus kerja seorang astronom profesional terkadang dapat dibagi menjadi empat bagian yang jelas:

  1. Menulis proposal dan mencari dana,
  2. Mengambil data,
  3. Mengolah dan menganalisis data,
  4. Menulis paper dan konferensi.

Ketika seorang astronom menemui persoalan yang ingin ia selesaikan, ia lalu mengajukan satu atau dua solusi yang kemudian ia ungkapkan dalam sebuah proposal penelitian. Proposal penelitian ini biasanya ada dua macam: proposal untuk mencari dana penelitian dan proposal untuk menggunakan teleskop/instrumen pengamatan.

Menulis proposal dan mencari dana
Dalam proposal pencarian dana, seorang astronom harus mampu menjelaskan mengapa persoalan ini pantas dijawab, apa pentingnya, dan bagaimana jawaban atas persoalan ini dapat berkontribusi pada ilmu pengetahuan. Proposal ini biasanya diajukan kepada lembaga pendonor (biasanya badan pemerintahan) atau pihak swasta (umumnya yayasan milik perusahaan besar). Selain itu astronom biasanya juga harus menjabarkan berapa tenaga kerja (berapa mahasiswa, postdoc, dll.) dan prasarana yang dibutuhkan (apakah perlu supercomputer, percobaan, teleskop, ataukah hanya kertas dan pinsil saja) untuk menjawa persoalan ini.

Bila astronom membutuhkan teleskop untuk mengambil data yang dibutuhkan, maka dalam proposal pengamatan ini astronom harus dapat menjelaskan

  1. Mengapa ia membutuhkan kapabilitas teleskop tersebut. Misalnya, bila ingin mengamat dengan Teleskop Hubble, mengapa harus pakai Hubble dan apakah tidak bisa pakai teleskop lain saja? Atau bila ingin mengamat dengan telesckop Keck, kenapa harus pakai teleskop Keck dan tidak pakai Subaru saja, dll.
  2. Perlukah ia mengambil data baru, atau bisakah dicari dari arsip citra yang sudah diambil oleh teleskop tersebut? Kedua pertanyaan ini penting untuk dijawab karena yang ingin mengamat lebih banyak daripada waktu pengamatan yang tersedia. Oleh karena proposal yang ada harus diseleksi dari segi pentingnya pada ilmu pengetahuan dan juga pemanfaatan kemampuan teleskop tersebut secara maksimal.

Mengambil data
Setelah astronom memperoleh dana untuk melangsungkan penelitiannya dan memperoleh persetujuan observatorium yang disasarnya untuk mengamat, mulailah ia mempersiapkan diri untuk pengamatan. Jadwal mengamat yang diberikan observatorium pada umumnya sudah pasti dan tidak boleh diganggu-gugat, karena banyak orang pada mengantri mau mengamat. Bila kita sudah diberi jadwal dari tanggal A sampai B maka kita harus datang pada tanggal A dan sudah harus angkat kaki pada tanggal B. Kalau kita masih nongkrong pada tanggal B maka sudah pasti akan diamuk oleh astronom lain yang sudah mau ambil data mulai dari tanggal B. Oleh karena itu harus disiplin.

Persiapan pengambilan ini ada dua aspek: Mengenal instrumen dan teleskop yang akan digunakan, dan juga mempersiapkan badan agar terbiasa dengan kondisi observatorium. Observatorium seringkali terletak di tempat yang jauh dari pemukiman manusia dan di tempat yang cukup ekstrim: Di puncak gunung tinggi, di tengah gurun pasir yang kering, atau bahkan di tengah padang es Kutub Selatan. Badan harus mulai dibiasakan dan kesehatan harus dijaga.

Apabila kita sendiri yang akan mengambil data, maka kita harus mengenal instrumen dan teleskop dengan cara membaca-baca buku panduan yang diberikan dan berkomunikasi dengan astronom tetap observatorium. Astronom tetap, biasa disebut resident astronomer, adalah astronom yang memang nongkrong tiap hari di observatorium untuk melakukan perawatan instrumen, pemasangan alat-alat baru, dan lain-lain.

Akhir-akhir ini, dengan semakin rumitnya instrumen dan metode pengamatan, maka kurva belajar (learning curve) semakin terjal dan menyulitkan astronom baru untuk mempelajari instrumen dalam waktu singkat. Hanya yang paling berpengalaman saja yang mampu mengambil data secara maksimal. Siapa lagi yang paling tahu instrumen sebuah obsevatorium luar-dalam selain astronom tetap? Oleh karena itu, sekarang banyak observatorium yang data-nya diambil oleh astronom tetap lalu kemudian diberikan kepada astronom peminta data.

Aspek lain adalah, dengan semakin cepatnya koneksi internet, sekarang sudah memungkinkan untuk melakukan pengamatan jarak jauh. Astronom pelamar cukup punya koneksi internet dan ia dapat mengontrol teleskop observatorium dari rumahnya.

Jadi, di kemudian hari, bukan tidak mungkin astronom tidak perlu pergi ke observatorium untuk mengambil data secara pribadi, namun dapat diambilkan oleh astronom tetap, atau ia dapat mengambil data langsung dari rumahnya.

Mengolah dan menganalisis data
Bagian ini biasanya dilakukan di institut tempat si astronom bekerja. Data yang sudah diambil seringkali masih mentah dan masih mengandung derau. Data tersebut kemudian harus diolah untuk menghilangkan derau. Setelah itu data tersebut harus dianalisis dan dibuat interpretasi akan gejala yang diamati. Analisis ini biasanya menggunakan statistika dan perangkat analisis lainnya, dan juga harus banyak membaca-baca literatur untuk perbandingan.

Menulis paper dan konferensi
Setelah data sudah dianalisis dan sudah ditarik kesimpulan akan apa yang bisa kita pelajari dari data tersebut, maka astronom mulai menulis sebuah paper untuk menjelaskan motivasinya, proses pengambilan data, proses analisis, dan kesimpulan yang bisa ditarik dari penelitian ini. Astronom juga memberikan saran tentang apa yang bisa dilakukan selanjutnya. Paper ini kemudian diserahkan kepada jurnal ilmiah yang menggunakan proses penilaian sejawat (peer review), sehingga rekan-rekan si astronom bisa mengevaluasi apakah pekerjaan si astronom sudah baik.

Selain komunikasi tertulis lewat jurnal, astronom juga sering mengkomunikasikan penelitiannya dalam konferensi ilmiah. Dalam konferensi ini berkumpul sejawat-sejawat yang sebidang. Sebagaimana dalam pekerjaan lainnya, pertemuan ini juga bisa dimanfaatkan untuk membangun jaringan kerja (networking) dan mencari jodoh (kalau memang tertarik).

Demikianlah kira-kira pola kerja seorang astronom.